Header Ads

Menag Perlu Ada Rumusan yang Jelas, Terkait Moderasi Islam

Di tengah keberagaman bangsa yang majemuk, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, kembali mengingatkan pentingnya moderasi Islam. Setidaknya sikap toleransi dan moderasi itu merupakan buah hasil dari cara berfikir, pemahaman dan cara pandang yang berlandaskan pada dua esensi dasar, yakni keseimbangan dan keadilan.

Menag dalam keterangan tulisnya di Jakarta, Kamis (21/6), mengatakan jadi melihat apapun kita harus seimbang, tidak boleh ekstrim pada salah satu kutub. Karena dengan cara seperti itu keadilan akan terwujud, lalu kemudian kita menjadi toleran danmoderat.

Menag mengatakan perlu ada rumusan yang jelas, terkait moderasi Islam karena itulah yang akan dibawa kemana-mana. Islam pada dasarnya memiliki nilai yang sama bagi seluruh ormas Islam di Indonesia, seperti menghormati dan melindungi harkat martabat kaum perempuan.

"Bagaimana cara mengimplementasi nilai itulah yang berbeda-beda. Kami ingin mengenalkan moderasi Islam yang sudah lama hidup di Indonesia. Maka, kami harus punya rumusan baku misalnya apa sebab moderasi Islam muncul," kata Menag.

Menag mengajak masyarakat untuk berhati-hati dalam melihat implementasi nilai-nilai Islam yang sangat beragam dan heterogen. Ia mengatakan umat Islam seyogyanya menghargai kemajemukan dan heterogenitas cara pandang nilai Islam, selama itu tidak melanggar prinsip-prinsip dasar.

"Pada titik mana kita dinilai sebagai ekstrim berlebihan? Kalau saya mengangapnya sebagai upaya pemaksaan. Nah di sini kita harus cermat betul lingkup moderasi itu ada di mana. Saya kurang sependapat ada yang mengatakan bahwa karena demokrasilah paham radikalisme itu muncul dan bersemai," ujar Menag.

Lukman mengatakan harus hati-hati, apakah dengan demokratisasi itu prilaku paham radikalisme membesar atau jangan-jangan kebijakan hukumnya yang tidak tegas. "Jadi, jangan salahkan demokrasi meski tidak sempurna namun inti dari pemahaman Islam itu adalah mengargai hak dan pendapat,” ujarnya.

Ia juga mengatakan jangan-jangan kita kehilangan konteks pemaknaan terhadap ritual Islam di Nusantara yang melekat pada local wisdom. "Ini perlu dicermati bersama," kata Lukman.

Tidak ada komentar

Submit Your Comment:

Readers can post comments related to articles or news that are broadcast. The content of the comments is not our views, opinions or policies and is solely the responsibility of the sender.

Readers may report comments if they are deemed unethical, abusive, contain slander, or SARA. We will weigh each incoming report and may decide to continue serving or deleting the comment.