Header Ads

Hukum Meninggalkan Salat Lima Waktu

DITEGASKAN dalam Alquran surah Al-Baqarah [2]: 43). Bahwa setiap umat Islam diwajibkan untuk mendirikan salat lima waktu. "Dan, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan ruku-lah beserta orang-orang yang ruku. (QS Al-Baqarah [2]: 43).

Hal ini diterangkan juga dalam surah Al-Baqarah [2]: 83, 110, Al-Isra [17]: 78, Al-Ankabut [29]: 45, Yunus [10]: 87, Thaha [20]: 14, ar-Ruum [30]: 31, Luqman [31]: 17, Al-Ahzab [33]: 33. Dan, masih banyak lagi perintah kewajiban mendirikan salat yang disebutkan dalam Alquran.

Nabi Muhammad SAW menegaskan kewajiban setiap Muslim untuk melaksanakan salat lima waktu. Ibnu Abbas berkata, "Ketika Abu Sufyan menceritakan tentang Heraklius kepadaku, ia berkata, 'Nabi Muhammad SAW menyuruh kami mendirikan salat, berlaku jujur, dan menjaga diri dari segala sesuatu yang terlarang."

Waktu salat lima waktu itu, bahkan juga telah disebutkan dalam Alquran dan hadis Nabi SAW. "Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS Al-Isra [17]: 87).

Salat itu sesungguhnya adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (QS An-Nisa [4]: 103).

Waktu salat Zuhur ialah jika matahari telah condong (ke barat) dan bayangan seseorang sama dengan tingginya selama waktu Ashar belum tiba.

Waktu salat Ashar masuk selama matahari belum menguning.

Waktu salat Maghrib selama awan merah belum menghilang.

Waktu salat Isya hingga tengah malam.

Waktu salat Subuh semenjak terbitnya fajar hingga matahari belum terbit. (HR Muslim).

Nash-nash di atas menunjukkan bahwa mendirikan salat lima waktu itu hukumnya wajib bagi setiap pribadi Muslim dan telah ditentukan waktunya. Mereka wajib melaksanakannya setiap saat dan dalam keadaan apapun.

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran [3]: 190-191)."

Walaupun perintah salat itu hukumnya wajib, namun sebagian umat Islam ada juga yang meninggalkan salat lima waktu. Baik karena lupa ataupun sengaja. Lupa karena kesibukannya dalam bekerja, sehingga sampai lupa waktu, ketiduran, atau karena ada hal tertentu yang menyebabkan seseorang tidak boleh melakukannya, seperti haid dan nifas.

Namun, ada juga yang meninggalkan salat karena kesengajaan. Misalnya, karena tidak tahu tata caranya, belum memahami hukum Islam secara benar, ataupun karena malas. Bagaimanakah hukumnya orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja?

Dalam Alquran, orang yang dengan sengaja meninggalkan salat, hukumnya dosa. Bahkan, ada ulama yang menghukuminya dengan kafir. Mengapa demikian? Sebagaimana pernah disampaikan Rasulullah SAW, bahwa yang membedakan orang Islam dengan kafir adalah salatnya. Berdasarkan hal ini, maka para ulama menetapkan bahwa orang yang dengan sengaja meninggalkan salat bisa dihukumi dengan kafir.

Dari Jabir bin Abdullah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Yang membedakan Muslim dengan kafir adalah meninggalkan salat." (HR Ahmad, Muslim dan Ashabus Sunan, kecuali An-Nasai).

Dari Buraidah berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Janji setia di antara kami dengan mereka adalah salat, barangsiapa yang meninggalkan salat, maka ia adalah kafir. (HR Ahmad dan Ashabus Sunan).

Dari Abdullah bin Amr dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau pada suatu hari mengingatkan tentang salat dan berkata: "Barangsiapa yang menjaga salat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan di Hari Kiamat, dan barangsiapa yang tidak menjaga salatnya, maka ia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan, dan pada Hari Kiamat ia akan bersama Qarun, Firaun, Haman, dan Ubay bin Khalaf." (Diriwayatkan oleh Ahmad, Ath-Thabrani dan Ibnu Hibban dengan sanad yang baik).

Karena dianggap kafir, maka sebagian ulama menghukumi boleh dibunuh. Imam Syafii dan Ahmad menyatakan orang yang meninggalkan salat, maka ia harus bertobat. Dan, apabila tidak mau bertobat, maka harus dibunuh.

Abu Bakar Ath-Tharthusyi sebagaimana dikutip Syekh Kamil Muhammad Uwaidah, dalam Fikih Muslimah, menyebutkan, "Menurut Imam Malik, wanita yang meninggalkan salat (tanpa alasan yang jelas, Red), harus diingatkan dengan keras, selama masih ada waktunya. Dan, apabila ia mengerjakannya, maka ia akan diampuni, dan jika menolak hingga waktunya telah berlalu, maka ia harus dibunuh."

Sedangkan Syekh Muhammad Kamil berpendapat, tidak mesti harus dibunuh, namun ia wajib diingatkan. Menurutnya, hadis di atas masih ada yang memperdebatkannya, terutama berkaitan dengan berapa kali si pelaku meninggalkannya.

Dalam sebuah riwayat, Sufyan Ats-Tsauri, Imam Malik, dan Ahmad berkata, "Dengan meninggalkan satu kali salat, seseorang perempuan Muslim dapat dikenai sanksi dibunuh. Demikian pula, menurut mazhab Syafii. Barangsiapa meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja, maka ia telah terlepas dari tanggung jawab Allah." (HR Ahmad dari Muadz bin Jabal). Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar

Submit Your Comment:

Readers can post comments related to articles or news that are broadcast. The content of the comments is not our views, opinions or policies and is solely the responsibility of the sender.

Readers may report comments if they are deemed unethical, abusive, contain slander, or SARA. We will weigh each incoming report and may decide to continue serving or deleting the comment.