Header Ads

Cicalengka, Miras Oplosan, dan Kenangan Masa SMA

Oleh Ayid Suyitno PS

Cicalengka adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Demikian Wikipedia, ensiklopedia bebas, menjelaskan. Kini, wilayah ini tengah populer gara2 miras oplosan. Masya Allah. Ada Etanol di antaranya campuran yang diminum dan tentu saja bikin koit.

Tidak jelas, otak para pengoplos itu seperti apa. Pastinya sama ya dengan kita yang dianugerahkan oleh Allah, meski nantinya jadi sosok atau profesi yang berbeda.

Mereka demikian nekad, sehingga sampai tadi aku dengar kabar, sudah 41 orang di antaranya sekarat dan mati. Kematian yang sia2. Nyawa yang sia-sia. Kalau saja bisa dibagi tuh umur yakin semua orang ingin mendapatkannya dari tewas karena kekonyolan itu.

Padahal, kabar para pengoplos minuman yang mati sudah ber-kali2, terus menerus, diberitakan. Orang waras pasti tahu, orang gila pun tidak ada yang kedengaran mati karena miras oplosan. Tetap saja, tuh orang-orang edan berani melakukan. Pemerintah Daerah (Pemda) dan Rumah Sakit (RS) setempat menyatakan situasi kondisi itu sebagai Kejadian Luar Biasa.

Aku berpikir, kenapa bisa terjadi peristiwa seperti itu? Jika orang bilang ada asap ada api, ada akibat ada sebab! Pada tempatnya jika diselidiki secara mendalam bisa seperti itu. Menyedihkan.

Cicalengka bagiku demikian nyangkut di hati. Puluhan tahun lalu, saat aku kelas 2 SMA, aku sudah mengenalnya. Di sinilah Bapakku dinyatakan pecah otak karena mengalami kecelakaan mobil usai menghindari pengendara sepeda yang melintas tiba-tiba. Dalam keadaan terus menangis, mengingat takut kehilangan Ayah dan tidak kuasa melihat Emakku yang airmatanya seperti habis, aku diajak ke Cicalengka oleh Bos Bapakku. Aku diminta menyaksikan kabar kabur keadaan Bapakku. Jadi, tidak sekadar dengar omongan orang.

Alhamdulilah. Di RS ternyata Bapakku hanya harus dijahit kepalanya dan dadanya sesak -- menghantam stir mobil -- yang bisa diobati dengan berobat jalan. Aku senang ternyata Bapakku kepalanya tidak pecah. Dari cerita beberapa orang yang menolong

Bapakku di RS itu diketahui bahwa Bapakku memang ditolong Allah melalui pohon bambu yang terdapat di pinggiran jurang di jalan itu. Saat melihat ada sepeda melintas dari kanan ke kiri Bapakku refleks membelokkan mobilnya ke kiri agar tidak menabrak. Apa boleh buat ia harus masuk jurang dan tidak jatuh ke dasarnya. Mobil yang dikemudikannya 'nyangsang' di pepohonan bmbu yang lebat itu.

Peristiwa ini menjadi kali pertama aku ke luar kota bersama orang lain, yakni Bos Bapakku dan Adik Ipar Bapakku yang ditugaskan mendampingiku. Biasanya aku ke luar kota, menengok Kakek Nenekku ke Subang, bersama keluarga. Jadi, tidak dapat kulupakan kisah ini. Termasuk, kebaikan para penduduk Cicalengka kala itu yang menolong Bapakku yang sedang tugas ke luar kota dan mengalami kecelakaan.

Jadi, dukaku untuk 'kebodohan' generasi muda di wilayah ini. Ke mana kebaikan yang selama ditanamkan Aki/Nini atau Bapa/Indung yang selama ini mereka tanamkan. Juga, pendidikan agama yang telah diberikan. Semoga para korban miras oplosan yang masih di RS lekas sembuh. Trus bertobatlah. Mumpung masih diberi waktu. 

*Ayid Suyitno PS. Lulusan SMAN 31/1979 dan IKIP Jakarta/1983. Penyair. Wartawan Olahraga.

Tidak ada komentar

Submit Your Comment:

Readers can post comments related to articles or news that are broadcast. The content of the comments is not our views, opinions or policies and is solely the responsibility of the sender.

Readers may report comments if they are deemed unethical, abusive, contain slander, or SARA. We will weigh each incoming report and may decide to continue serving or deleting the comment.