Header Ads

Menyadari Kekurangan Diri

Adakah manusia yang sempurna di dunia ini? Tak ada bukan! Karena itu adalah fitrah dan kodrat kita sebagai manusia. Ada kelebihan dan kekurangan, ada baik dan buruk, dan ada pahala dan dosa. Inilah yang menyebabkan manusia itu tak pernah puas menjalani lakon kehidupan yang demikian 'dahsyatnya'.

Kalau istilah psikologinya equilibrium. Di mana manusia tak pernah puas dengan yang ada dan selalu mencari apa yang belum didapatkan. Anehnya, setelah yang didapatkan itu didapati, masih belum juga, ya ada saja yang dirasa kurang.

Lebih dan kurang, puas dan tidak puas, memang serba relatif. Seperti halnya nasib manusia yang sering tak terduga. Bak roda pedati, kadang di atas kadang di bawah, terus berputar.

Yang pasti, ketidakpuasan dalam diri manusia adalah hal yang wajar. Bila lahirnya juga wajar, tak dilambari sesuatu yang berlebihan, tapi mengalir dan hadir pada saatnya.

Wajar dong, bila seorang mahasiswa mendambakan ingin cepat selesai kuliahnya. Wajar pula, bila seorang pegawai mendambakan gajinya terus naik dan ia bisa beroleh kenaikan pangkat. Dan lain sebagainya, wajar demi wajar yang harus kita pandang ringan tanpa beban.

Ini tak berarti kita lantas saja bisa eksis, tampil tanpa kekurangan. Bahkan, sebaliknya. Acapkali terjadi, ingin cepat selesai kuliah, tapi tak mau belajar tekun. Ingin naik gaji dan pangkat, tapi kerjanya terlampau santai, cenderung bermalas-malasan. Wah, mana mungkin?

Jadi, bukan suatu hal yang salah kalau kita perlu menyadari kekurangan diri. Yang mesti kita benahi, amati, perhatikan, dan buang jauh-jauh kekurangan itu.

Kalau sebagai penulis kita merasa belum hebat, ya apa salahnya belajar lewat buku-buku, majalah, koran, atau diskusi dengan mereka yang menurut Anda hebat. Tentu, juga bersedia diajak diskusi. Begitu pula, dengan kekurangan kita yang lain. Apa salahnya, kita penuhi lewat 'pengetahuan dan pengalaman' yang jelas bisa kita dapatkan.

Bukankah hidup itu lautan ilmu? Tinggal lagi, masalahnya,  mampukah kita mereguknya, melayari, hingga sampai ke pelabuhan tujuan.

Menyadari kekurangan diri memang tidak ada salahnya. Yang perlu diingat itu tak berarti dipenuhi ambisi, egois, mentang-mentang, tapi suatu bukti kita hidup, bergerak, dinamis. Pernahkah terpikir oleh kita bahwa segala sesuatu yang akan sedang dan telah kita lakukan adalah proses yang menghasilkan? Ashadi Siregar menuliskan 'Cintaku di Kampus Biru' dengan penuh kesulitan sebelum menjadi novel yang best seller dan disukai masyarakat. Begitu pula yang dialami A. Riyanto sebelum menjadi jutawan dan terkenal. Terus belajar dan belajar itu perlu. Kalau kita pikir kita mampu, apa salahnya mengasah-mempertajam kemampuan kita?

(Ayid Suyitno PS di Mingguan Simponi, NO 763 TH, KE 15 Halaman 4, 6 Januari 1987).

Tidak ada komentar

Submit Your Comment:

Readers can post comments related to articles or news that are broadcast. The content of the comments is not our views, opinions or policies and is solely the responsibility of the sender.

Readers may report comments if they are deemed unethical, abusive, contain slander, or SARA. We will weigh each incoming report and may decide to continue serving or deleting the comment.