Header Ads

Ketemu Anakmuda Tetangga, Nyambi Kerja, Susah Beli Rumah

Pagi ini -- saat membeli nasi uduk tetangga -- aku ketemu anakmuda tetangga. Ia mau pergi kerja di sebuah pabrik di Cikarang, Jawa Barat. Ia bercerita bahwa hidup itu harus rajin, tekun, dan pasrah. Sikap yang diambil bukan dari kehidupan keluarganya, namun berdasarkan pengalaman hidupnya selama ini. Setelah lulus SMA, setelah dewasa.

Ia harus ngekos di sebuah masjid jika masuk pagi. Karena saat itu ia tidak punya motor. Padahal, jam tujuh sudah harus nyeklop ke mesin kantor. Kemudian, mengkredit motor sampai kini. Ia selanjutnya lebih terdorong berkeluarga dengan pilihan rumah ngontrak, mengingat membeli rumah -- meski kredit -- lebih sulit ketimbang kawin.

Kini, meski ia nyambi jadi ojek online tetap saja rumah kredit itu belum dimilikinya. Karena uang mukanya tidak sedikit. Apalagi, bayar bulanannya yang dirasa berat.

Para anakmuda yang seperti ini banyak di negeri ini. Dengan keinginan dan usaha memiliki rumah semakin mengambang entah ke mana. Harga rumah yang mahal -- meski RSSS/Rumah Sangat Sederhana Sekali -- harganya sudah kian tidak terjangkau kantong para buruh yang menyambi itu. Kebutuhan hidup yang mencekik membuat si tetangga mudaku menempatkan pasrah dalam kamus hidupnya.

Ayid Suyitno PS, lulusan SMA 31 Jakarta dan IKIP Jakarta, penyair, wartawan olahraga.

Tidak ada komentar

Submit Your Comment:

Readers can post comments related to articles or news that are broadcast. The content of the comments is not our views, opinions or policies and is solely the responsibility of the sender.

Readers may report comments if they are deemed unethical, abusive, contain slander, or SARA. We will weigh each incoming report and may decide to continue serving or deleting the comment.