Header Ads

Gamawan Fauz: Jika Terbukti Terima Uang Saya Siap Dihukum Mati


Ikrar yang menggiriskan diucapkan mantan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Gamawan Fauzi. Ia siap dihukum mati jika benar-benar menerima uang dan melakukan korupsi dalam proyek kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP).

"Saya siap dihukum mati yang mulia. Saya sering dicurigai, silakan cek saja. Sama sekali tidak ada niatan. Kalau ada foto atau apa, lalu juga saya dicurigai ke Singapura juga. Ini sudah fitnah keterlaluan," ujar Gamawan Fauzi di hadapan majelis hakim Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (29/1).

Gamawan mengataka ikrar ini Fauzi saat dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam persidangan terdakwa mantan Ketua DPR sekaligus mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto (Setnov).

Perkara Setnov, yakni korupsi dalam pembahasan hingga persetujuan anggaran dan proyek pengadaan e-KTP di Kemendagri tahun 2011-2013‎‎.

Ikrar Gamawan terucap bermula saat anggota majelis hakim Franki Tambuwun mencecar tentang hubungan Gamawan dengan Direktur Utama PT Sandipala Arthaputra Paulus Tannos dan Azmin Aulia. PT Sandipala Arthaputra merupakan anggota konsorsium Perusahaan Umum Percetakan Negara RI (Perum PNRI), konsorsium pemenang tender proyek e-KTP di Kemendagri.

Hakim Franki menuturkan, berdasarkan keterangan Direktur Utama PT Cahaya Wijaya Kusuma yang juga Direktur PT Murakabi Sejahtera Andi Agustinus alias Andi Narogong alias Asiong (divonis 8 tahun penjara) dalam persidangan Setnov pada Senin (22/1) lalu, Narogong menyebutkan Paulus Tannos adalah orang dekat Gamawan.

Bahkan, menurut Narogong, untuk mendapatkan proyek e-KTP maka Paulus menggandeng adik Gamawan sekaligus Direktur PT Gajendra Adhi Sakti Azmin Aulia. Bahkan, kemudian ada transaksi pembelian rumah toko (ruko) antara Azmin dengan Paulus.

Gamawan menjawab, ia memang mengenal Paulus Tannos pada 2007 saat Gamawan masih menjadi Gubernur Sumatera Barat. Paulus saat itu menangani dan menandatangani kontrak dengan PLN di Padang. Selepas itu, Gamawan mengklaim tidak pernah lagi bertemu Paulus.

Gamawan mengakui Azmin Aulia memang adalah adiknya. Namun, ia tidak pernah menyodorkan nama Azmin atau mengutus Azmin untuk memuluskan Paulus mendapat proyek e-KTP.

"Begitu Andi Narogong bicara, saya tanya ke adik saya. Bener gak sama Paulus Tanos. Ia (Paulus Tanos) jual karena kesulitan uang dari pemerintah yang proyek belum turun. Kalau akta jual beli tidak bisa dipercaya gimana? Itu juga belinya kan atas nama perusahaan, bukan pribadi," klaim Gamawan.

Ruko tersebut sebagai jatah yang diperuntukkan ke Gamawan dengan cara disamarkan. Sekali lagi, kata Gamawan, pembelian ruko disertai tanah tersebut bukan dibeli secara pribadi oleh Azmin, namun dibeli perusahaan. Pembelian tersebut juga tercatat dalam kuitansi dan di notaris.

Untuk Rp50 juta yang diberikan Irman (terdakwa divonis 7 tahun penjara) ke Gamawan merupakan uang honor sebagai pembicara di beberapa daerah yang acaranya diselenggarakan Ditjen Dukcapil. Karenanya Gamawan memastikan uang tersebut bukan dari Narogong.

Tidak ada komentar

Submit Your Comment:

Readers can post comments related to articles or news that are broadcast. The content of the comments is not our views, opinions or policies and is solely the responsibility of the sender.

Readers may report comments if they are deemed unethical, abusive, contain slander, or SARA. We will weigh each incoming report and may decide to continue serving or deleting the comment.