Header Ads

Dunia Baru Kobe 'Black Mamba' Bryant Setelah Pensiun


Sudah sejak dua tahun lalu, mantan pebasket Los Angeles Lakers, Kobe Bryant, mengakhiri karirnya. Kini, ia tengah merencanakan sesuatu yang baru. Pada 2016 lalu saat itu di Stadion Staples Center, Los Angeles, Amerika Serikat, dua nomor kebanggaan Kobe Bryant, 24 dan 8, digantung di langit-langit Stadion itu sebagai tanda penghormatan atas sumbangsih Bryant buat Los Angeles Laker.

Bryant saat itu memang sudah melambaikan tangan ke lapangan basket. Namun, pada saat yang bersamaan ia mulai mengucapkan kata halo bagi petualangannya yang baru.

"Tantangan terbesar saat ini adalah menemukan apa yang selanjutnya dilakukan. Olahraga adalah hal yang tidak asing buat saya, namun ini sudah berakhir," kata lelaki kelahiran 23 Agustus 1978 itu.

Yang mengejutkan Bryant justru tertarik dengan cerita. Namun, Black Mamba, julukannya ini bukan ingin menjadi seorang penulis seperti John Grisham, Stephen King, apalagi Ernest Hemingway. Ia hanya ingin memberikan kesempatan bagi para penulis muda yang bisa menginspirasi banyak orang lewat tulisan. Inilah alasan mengapa ia ogah mencoba menjadi pelatih klub basket seperti yang berhasil dilakukan pelatih Golden State Warriors, Steve Kerr.

"Jika saya memilih melatih, saya hanya bisa menginspirasi 12 orang. Sebaliknya dengan membuat sebuah buku, saya bisa menginspirasi semua orang di mana saja di bumi ini," tuturnya.

Bryant beranggapan menulis dan bercerita sama menariknya dengan bermain basket. Penulis bisa memberikan dunia ke hadapan para pembacanya. "Bagaimana penulis bisa membuat pembacanya penasaran dari satu halaman ke halaman lainnya, itu yang membuat saya jadi tertarik berkecimpung di dunia ini," katanya.

Ia tidak berupaya memaksa dirinya untuk membuat buku yang jauh dari kesehariannya. Ia yakin jika memaksakan diri mencoba membuat buku yang tidak dipahaminya, maka ia akan jadi terlihat bodoh. Ia pun mencoba membuat buku-buku yang memiliki hubungan dengan olahraga. Sebuah dunia yang memang telah ia lakukan selama lebih dari dua dekade belakangan ini.
"Saat ini tantangan terbesar buat saya adalah mencari penulis-penulis yang tidak hanya memiliki pemahaman menulis klasik yang dalam, namun juga seorang atlet yang baik," katanya jujur.

Bryant juga memahami betul bahwa dunia penerbitan buku adalah dunia yang baru baginya. Itulah mengapa ia membutuhkan banyak konsultasi dengan berbagai penerbit yang telah lebih dulu berkecimpung di dunia tersebut. Ia tidak merasa sungkan mengajukan permohonan untuk bertemu dengan penerbit ternama dunia. Ia malah mengaku banyak penerbit tersebut justru sangat senang ketika ia mengutarakan keinginannya untuk berdiskusi. "Mereka senang karena saya menelepon mereka. Apa yang bisa saya bantu kata mereka," ucap Bryant tertawa.

Bryant yakin dukungan dan berbagi informasi jadi fondasi bisnis yang akan ia kerjakan. Selebihnya ia akan berusaha sebaik mungkin seperti apa yang telah ia lakukan di lapangan basket, yakni kerja keras.
"Sebenarnya berbisnis itu sama saja dengan main basket. Lahannya memang berbeda, hanya saja selebihnya sama seperti komitmen pada detail, kerja keras, dan saling bekerjasama agar bisa mengeluarkan upaya terbaik dari setiap orang," kilahnya.

Lelaki yang memulai karir di LA Lakers ini dengan jersey nomor 8 ini setidaknya memegang teguh ungkapan bahwa saat gagal merencanakan sesuatu, maka sesungguhnya kita sedang merencanakan kegagalan. Di dunia bisnis dan tulis-menulis, ia memang seperti seorang anak kecil yang tengah belajar membaca. Ia tidak akan berhenti membaca karena ia yakin semakin sering membaca, maka jalan menuju kesuksesan terbuka lebar. Seperti halnya saat ia meraih kesuksesan di lapangan basket. Ia tidak pernah berhenti berlatih basket, meskipun ada waktu luang untuk beristirahat. Lewat latihan, ia berencana untuk meraih kesuksesan.

Tidak ada komentar

Submit Your Comment:

Readers can post comments related to articles or news that are broadcast. The content of the comments is not our views, opinions or policies and is solely the responsibility of the sender.

Readers may report comments if they are deemed unethical, abusive, contain slander, or SARA. We will weigh each incoming report and may decide to continue serving or deleting the comment.